Efektivitas Mengajar Kreatif Dalam Alkitab

Yesaya 58:2-3 (2) Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: (3) “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.

KURIKULUM pendidikan Indonesia diarahkan untuk membentuk sumber daya manusia yang aktif dan kreatif.Anak didik yang penuh inovasi menjadi sasaran utama kurikulum. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) tengah mengkaji kurikulum pendidikan yang berorientasi pada pembentukan kreativitas dan kewirausahaan pada anak didik sedini mungkin. Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal meminta pembelajaran aktif kreatif, dan menyenangkan terus dilakukan. pembelajaran aktif atau sering disebut student center learning adalah metode untuk meningkatkan proses pembelajaran.Sistem ini meliputi pembelajaran aktif,kreatif, dan menyenangkan (Pakem). Pakem adalah usaha yang berorientasi pada pembentukan kemandirian berfikir serta mengasah kreativitas. Dengan Pakem dapat membentuk dan merangsang kewirausahaan.

Dalam Kitab Yesaya dijelaskan betapa giatnya orang-orang Yahudi mempelajari Taurat Tuhan. Mereka sepertinya sangat senang mempelajari Kitab Suci. Kesenangan mempelajari maka akan melahirkan semangat secara aktif dan kontiyu serta menimbulkan kreativitas.

Permasalahan yang timbul dalam pendidikan Agama zaman Yesaya adalah respon Tuhan tidaklah seperti yang diharapakan peserta didik dan guru Agama terhadap jerih lelah usaha belajar. Kreativitas yang lahir dari usaha mempelajari agama tidak sejajar dengan respon Tuhan Allah?

Ada perbedaan yang menyolok antara kreativitas dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan denga  kreativitas dalam menjalan hubungan dengan Allah dengan baik termasuk dalam mengajarkan kebenaran Alkitab.

Lawrence O. Richards membagi belajar menjadi lima tahap. Tahapan itu adalah:

  1. Tahap menghafal tanpa berpikir.
  2. Tahap mengenali
  3. Tahap mengucapkan kembali.
  4. Tahap menghubungkan.
  5. Tahap merealisasi.

Dalam tahap merealisasi, sasaran dari semua kegiatan pengajaran Alkitab, yaitu merealisasikan dalam pengertian membuatnya nyata dalam pengalaman kita. Kenyataanan realisasi yang seolah olah melakukan hukum Tuhan mungkin secara tidak disadari dapat menjebak kita mengulang perilaku bangsa Israel pada zaman Yesaya.

Tekanan yang kuat kepada usaha merealisasikan perintah Tuhan dengan kekuatan dan akal budi manusia haruslah didasari oleh kasih yang benar dan kasih itu adalah buah Roh dan buah Roh adalah pekerjaan Roh Allah. Tanpa kehadiran dan keterlibatan Roh Allah dapat mengakibatkan nasib yang sama seperti pembelajaran orang Israel pada masa Yesaya.

Pengajaran kreatif berarti secara sengaja atau secara sadar dan secara efektif memusatkan perhatian pada aktivitas-aktivitas belajar yang dapat meningkatkan tahap belajar para pelajar. Hal ini adalah sisi lemah dalam banyak pengajar Alkitab sehingga sulit memusatkan perhatian dan menjadi pasif. Namun mengajar kreatif telah berkembang pesat. Dalam mengajar kreatif mengenal KTSP. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk dapat mengungkapkan segala potensi dirinya untuk dapat meraih sekian kompetensi sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan sebaliknya hanya disuapi oleh guru dengan segala macam pengetahuan dengan indikator :

  1. Metode Pembelajaran
  2. Pengelolaan Kelas
  3. Ketrampilan Bertanya
  4. Pelayanan Individual
  5. Sumber Belajar dan Alat Bantu Pembelajaran
  6. Umpan Balik dan Evaluasi
  7. Komunikasi dan Interaksi
  8. Keterlibatan Siswa
  9. Refleksi
  10. Hasil Karya Siswa
  11. Hasil Belajar

Dengan pengajaran kreatif firman Allah dapat disampaikan dan mengubah, namun perubahan yang terjadi belum tentu memuaskan standar dari perubahan yang Allah inginkan bagi peserta didik. Dalam mengajar yang menimbulkan kesenangan, perlu hadirnya kuasa Roh Kudus, sehingga ada “Flow” dalam mempelajari kebenaran Firman Allah. Kreatifitas seorang pengajar Alkitab tidak dapat menjamin terjadinya perubahan dari peserta didik tanpa campur tangan Roh Allah yang mengubahkan. Kekuatan dan hikmat Allah memberikan pengayaan dalam pembelajaran dari Allah yang diberikan secara khusus dan unik bagi peserta didik.

Dengan meningkatkan kreativitas dalam bimbingan Roh Kudus dan hadirnya Roh Kudus yang mengarahkan dan mengiluminasikan dengan kuat kuasa dan hikmatNya maka barulah efektivitas mengajar kreatif Alkitab dapat memuaskan hati Allah.

Tags: , , ,

Post Author

Postingan ini dibuat oleh suhartanatanael@gmail.com yang telah menulis 299 dibuat pada Kegiatan Kristiani.

Belum ada komentar.

Berikan Tanggapan